Konsep-konsep
birokrasi secara awam lekat dengan stempel “tak efektif”, “lambat”, “kaku”,
bahkan “menyebalkan.” Stempel-stempel seperti ini pada satu sisi menemui
sejumlah kebenarannya pada fakta lapangan. Namun, sebagian lain merupakan
stereotipe yang sesungguhnya masih dapat diperdebatkan keabsahannya.
Pada materi
ini, kita akan kembali kepada tema awal maksud dari gagasan birokrasi. Konsep
birokrasi yang dikaji pada materi ini mengikut pada dua teoretisi yang cukup
berpengaruh di bidang ini. Pertama adalah konsep birokrasi yang disodorkan Max
Weber. Kedua adalah konsep birokrasi yang disodorkan oleh Martin Albrow. Potret Indonesia
Max Weber on
Bureaucracy
Sebelum
masuk pada pandangan Weber soal Birokrasi ada baiknya ditinjau etimologi
(asal-usul) konsep ini yang berasal dari kata “bureau”. Kata “bureau” berasal
dari Perancis yang kemudian diasimilasi oleh Jerman. Artinya adalah meja atau
kadang diperluas jadi kantor. Sebab itu, terminologi birokrasi adalah aturan
yang dikendalikan lewat meja atau kantor. Di masa kontemporer, birokrasi adalah
"mesin" yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang ada di organisasi
baik pemerintah maupun swasta. Pada pucuk kekuasaan organisasi terdapat
sekumpulan orang yang menjalankan kekuasaan secara kurang birokratis, dan dalam
konteks negara, mereka misalnya parlemen atau lembaga kepresidenan.
Hal yang
perlu disampaikan, Max Weber sendiri tidak pernah secara definitif menyebutkan
makna Birokrasi. Weber menyebut begitu saja konsep ini lalu menganalisis
ciri-ciri apa yang seharusnya melekat pada birokrasi. Gejala birokrasi yang
dikaji Weber sesungguhnya birokrasi-patrimonial. Birokrasi-Patrimonial ini
berlangsung di waktu hidup Weber, yaitu birokrasi yang dikembangkan pada
Dinasti Hohenzollern di Prussia.
Birokrasi
tersebut dianggap oleh Weber sebagai tidak rasional. Banyak pengangkatan
pejabat yang mengacu pada political-will pimpinan Dinasti. Akibatnya banyak
pekerjaan negara yang “salah-urus” atau tidak mencapai hasil secara maksimal.
Atas dasar “ketidakrasional” itu, Weber kemudian mengembangkan apa yang
seharusnya (ideal typhus) melekat di sebuah birokrasi.
Weber
terkenal dengan konsepsinya mengenai tipe ideal (ideal typhus) bagi sebuah
otoritas legal dapat diselenggarakan, yaitu:
- tugas-tugas pejabat diorganisir atas dasar aturan yang berkesinambungan;
- tugas-tugas tersebut dibagi atas bidang-bidang yang berbeda sesuai dengan fungsi-fungsinya, yang masing-masing dilengkapi dengan syarat otoritas dan sanksi-sanksi;
- jabatan-jabatan tersusun secara hirarkis, yang disertai dengan rincian hak-hak kontrol dan pengaduan (complaint);
- aturan-aturan yang sesuai dengan pekerjaan diarahkan baik secara teknis maupun secara legal. Dalam kedua kasus tersebut, manusia yang terlatih menjadi diperlukan;
- anggota sebagai sumber daya organisasi berbeda dengan anggota sebagai individu pribadi;
- pemegang jabatan tidaklah sama dengan jabatannya;
- administrasi didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis dan hal ini cenderung menjadikan kantor (biro) sebagai pusat organisasi modern; dan
- sistem-sistem otoritas legal dapat mengambil banyak bentuk, tetapi dilihat pada bentuk aslinya, sistem tersebut tetap berada dalam suatu staf administrasi birokratik.
Bagi Weber,
jika ke-8 sifat di atas dilekatkan ke sebuah birokrasi, maka birokrasi tersebut
dapat dikatakan bercorak legal-rasional.
Selanjutnya,
Weber melanjutkan ke sisi pekerja (staf) di organisasi yang legal-rasional.
Bagi Weber, kedudukan staf di sebuah organisasi legal-rasional adalah sebagai
berikut:
- para anggota staf bersifat bebas secara pribadi, dalam arti hanya menjalankan tugas-tugas impersonal sesuai dengan jabatan mereka;
- terdapat hirarki jabatan yang jelas;
- fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas;
- para pejabat diangkat berdasarkan suatu kontrak;
- para pejabat dipilih berdasarkan kualifikasi profesional, idealnya didasarkan pada suatu diploma (ijazah) yang diperoleh melalui ujian;
- para pejabat memiliki gaji dan biasanya juga dilengkapi hak-hak pensiun. Gaji bersifat berjenjang menurut kedudukan dalam hirarki. Pejabat dapat selalu menempati posnya, dan dalam keadaan-keadaan tertentu, pejabat juga dapat diberhentikan;
- pos jabatan adalah lapangan kerja yang pokok bagi para pejabat;
- suatu struktur karir dn promosi dimungkinkan atas dasar senioritas dan keahlian (merit) serta menurut pertimbangan keunggulan (superior);
- pejabat sangat mungkin tidak sesuai dengan pos jabatannya maupun dengan sumber-sumber yang tersedia di pos terbut, dan;
- pejabat tunduk pada sisstem disiplin dan kontrol yang seragam.
Weber juga
menyatakan, birokrasi itu sistem kekuasaan, di mana pemimpin (superordinat)
mempraktekkan kontrol atas bawahan (subordinat). Sistem birokrasi menekankan
pada aspek “disiplin.” Sebab itu, Weber juga memasukkan birokrasi sebagai
sistem legal-rasional. Legal oleh sebab tunduk pada aturan-aturan tertulis dan
dapat disimak oleh siapa pun juga. Rasional artinya dapat dipahami, dipelajari,
dan jelas penjelasan sebab-akibatnya.
Khususnya,
Weber memperhatikan fenomena kontrol superordinat atas subordinat. Kontrol ini,
jika tidak dilakukan pembatasan, berakibat pada akumulasi kekuatan absolut di
tangan superordinat. Akibatnya, organisasi tidak lagi berjalan secara rasional
melainkan sesuai keinginan pemimpin belaka. Bagi Weber, perlu dilakukan
pembatasan atas setiap kekuasaan yang ada di dalam birokrasi, yang meliputi
point-point berikut:
- Kolegialitas. Kolegialitas adalah suatu prinsip pelibatan orang lain dalam pengambilan suatu keputusan. Weber mengakui bahwa dalam birokrasi, satu atasan mengambil satu keputusan sendiri. Namun, prinsip kolegialitas dapat saja diterapkan guna mencegah korupsi kekuasaan.
- Pemisahan Kekuasaan. Pemisahan kekuasaan berarti pembagian tanggung jawab terhadap fungsi yang sama antara dua badan atau lebih. Misalnya, untuk menyepakati anggaran negara, perlu keputusan bersama antara badan DPR dan Presiden. Pemisahan kekuasaan, menurut Weber, tidaklah stabil tetapi dapat membatasi akumulasi kekuasaan.
- Administrasi Amatir. Administrasi amatir dibutuhkan tatkala pemerintah tidak mampu membayar orang-orang untuk mengerjakan tugas birokrasi, dapat saja direkrut warganegara yang dapat melaksanakan tugas tersebut. Misalnya, tatkala KPU (birokrasi negara Indonesia) “kerepotan” menghitung surat suara bagi tiap TPS, ibu-ibu rumah tangga diberi kesempatan menghitung dan diberi honor. Tentu saja, pejabat KPU ada yang mendampingi selama pelaksanaan tugas tersebut.
- Demokrasi Langsung. Demokrasi langsung berguna dalam membuat orang bertanggung jawab kepada suatu majelis. Misalnya, Gubernur Bank Indonesia, meski merupakan prerogatif Presiden guna mengangkatnya, terlebih dahulu harus di-fit and proper-test oleh DPR. Ini berguna agar Gubernur BI yang diangkat merasa bertanggung jawab kepada rakyat secara keseluruhan.
- Representasi. Representasi didasarkan pengertian seorang pejabat yang diangkat mewakili para pemilihnya. Dalam kinerja birokrasi, partai-partai politik dapat diandalkan dalam mengawasi kinerja pejabat dan staf birokrasi. Ini akibat pengertian tak langsung bahwa anggota DPR dari partai politik mewakili rakyat pemilih mereka.
Hingga kini,
pengertian orang mengenai birokrasi sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan
Max Weber di atas. Dengan modifikasi dan penolakan di sana-sini atas pandangan
Weber, analisis birokrasi mereka lakukan.
Kritik atas
Pandangan Weber mengenai Birokrasi
Secanggih
apapun analisis manusia, ia akan menuai kritik. Demikian pula pandangan Weber
akan birokrasi ini. Berikut akan disampaikan sejumlah kritik para ahli akan
pandangan Weber, yang seluruhnya diambil dari karya Martin Albrow (lihat
referensi).
Robert K.
Merton. Dalam artikelnya “Bureaucratic Structure and Personality”, Merton
mempersoalkan gagasan birokrasi rasional Weber. Bagi Merton, penekanan Weber
pada reliabilitas (kehandalan) dan ketepatan akan menimbulkan kegagalan dalam
suatu administrasi. Mengapa? Peraturan yang dirancang sebagai alat untuk
mencapai tujuan, dapat menjadi tujuan itu sendiri. Selain itu, birokrat yang
berkuasa akan membentuk solidaritas kelompok dan kerap menolak perubahan. Jika
para pejabat ini dimaksudkan untuk melayani publik, maka norma-norma impersonal
yang menuntun tingak laku mereka dapat menyebabkan konflik dengan
individu-individu warganegara. Apa yang ditekankan Merton adalah, bahwa suatu
struktur yang rasional dalam pengetian Weber dapat dengan mudah menimbulkan
akibat-akibat yang tidak diharapkan dan mengganggu bagi pencapaian
tujuan-tujuan organisasi.
Philip
Selznick. Selznick mengutarakan kritiknya atas Weber tentang Disfungsionalisasi
Birokrasi. Ia fokus pada pembagian fungsi-fungsi did alam suatu organisasi.
Selznick menunjukkan bagaimana sub-sub unit mewujudkan tujuan organisasi secara
keseluruhan. Pembentukan departemen-departemen baru untuk meniadakan
kecenderungan lama, hanya akan memperburuk situasi karena akan muncul lebih
banyak sub-sub unit tujuan.
Talcott
Parsons. Parsons fokus pada kenyataan bahwa staf administrasi yang dimaksud
Weber, telah didefinisikan sebagai yang memiliki keahlian profesional dan juga
hak untuk memerintah. Atribut-atribut seperti itu, kilah Parsons, dapat memunculkan
konflik di dalam birokrasi, karena tidak mungkin untuk memastikan bahwa posisi
dalam hirarki otoritas akan diiringi oleh keterampilan profesional yang
sepadan. Akibatnya, timbul persoalan bagi angggota organisasi: Siapa yang harus
dipatuhi? Orang yang memiliki hak untuk memerintah atau orang yang memiliki
keahlian yang hebat?
Alvin
Gouldner. Gouldner melanjutkan kritik Parsons atas Weber. Gouldner memuatnya
dalam Pattern of Industrial Bureaucracy. Dalam analisisnya tentang dasar
kepatuhan dalam suatu organisasi, Gouldner menyimpulkan argumennya pada konflik
antara otoritas birokrati dan otoritas profesional. Ia membedakan 2 tipe
birokrasi yang uta: “Pemusatan-Hukuman (punishment centered) dan Perwakilan
(representative). Pada tipe punishment centered, para anggota birokrasi
pura-pura setuju dengan peraturan yang mereka anggap dipaksakan kepada mereka
oleh suatu kelompok yang asing. Sedang pada tipe Representative, para anggota
organisasi memandang peraturan sebagai kebutuhan menurut pertimbangan teknis
dan diperlukan sesuai dengan kepentingan meerka sendiri. Dua sikap yang berbeda
terhadap peraturan ini memiliki pengaruh yang mencolok pada pelaksanaan
organisasi yang efisien.
R.G. Francis
dan R.C. Stone. Francis dan Stone melanjutkan kritik Gouldner dalam buku mereka
Service and Procedure in Bureaucracy. Francis dan Stone menunjukkan bahwa
walaupun literatur resmi tentang organisasi dapat melarang impersonalitas dan
kesetiaan yang kuat pada prosedur yang sudah ditentukan, tetapi dalam
prakteknya para staf birokrasi dapat menyesuaikan tindakan mereka dengan
keadaan-keadaan yang cocok dnegan kebutuhan-kebutuhan individu.
Rudolf
Smend. Smend sama seperti Weber, berasal dari Jerman. Ia mengeluhkan bahwa
Weber bertanggung jawab terhadap kesalahpahaman pemahaman tentang administrasi
sebagai mesin rasional. Sementara pada pejabatnya hanyalah mengemban
fungsi-fungsi teknis. Hakim dan pejabat administrasi bukan merupakan etres
inanimes. Mereka adalah makhluk berbudaya (gestig) dan makhluk sosial yang secra
aktif mengemban fungsi-fungsi tertentu di dalam keseluruhan budaya. Apa yang
dilakuka oleh manusia-manusia seperti itu ditentukan oleh keseluruhan budaya,
yang diorientasikan melalui fungsi-fugnsinya, dan pada gilirannya membantu
menentukan hakikat dari seseluruhan budaya tersebut. Dalam menerangkan hal ini,
Smend menambahkan, masuk akal jika orang-oorang sosialis mengeluhkan “keadilan
yang borjuistis.”
Reinhard
Bendix. Bendix berpendapat bahwa efisiensi organisasi tidak dapat dinilai tanpa
mempertimbangkan aturan-aturan formal dan sikap-sikap manusia terhadapnya.
Dalam bukunya Higher Civil Servants in American Society, Bendix membantah
adanya kemauan mematuhi undang-undang tanpa campur tangan dari nilai-nilai
sosial dan politik yang umum. Semua peraturan diterapkan pada kasus-ksus
tertentu, dan dalam menentukan apakah suatu kasus berada di bawah peraturan,
seorang pejabat arus mengemukakan alasan-alasan yang dapat dijadikan
pertimbangan. Dalam membuat pertimbangannya, pejabat menemukan suatu dilema. Di
satu sisi, jika terlalu tunduk dengan undang-undang ia secara populer disebut
bersikap birokratis. Tetapi, di sisi lain, jika ia terlalu percaya pada
inisiatif semangat kemanusiaan, sepanjang hal itu tidak tertulis di dalam kitab
perundang-undangan, maka tindakannya secara populer disebut sebagai suatu
penyalahgunaan kekuasaan, karena mencampuri hak prerogatif badan legislatif.
Carl
Friedrich. Seorang lainnya, Carl Friedrich, mengkritisi pendapat Weber bahwa
seorang birokrat selalu harus bertindak sesuai aturan yang tertulis.
Kenyataannya, peraturan-peraturan merupakan petunjuk yang tidak lengkap untuk
bertindak. Ini artinya, faktor-faktor di luar peraturan harus dipertimbangkan
oleh ilmuwan sosial dalam menginterpretasikan tindakan pejabat. Kemungkinan interpretasi
ini menggambarkan perlunya pilihan untuk digunakan sebagai pertimbangan setiap
administrator. Ini berlawanan dengan pendapat Weber, yang membenarkan birokrati
untuk menghindari semua tanggung jawab atas tindakannya. Bagi Friedrich,
seorang birokrat bisa bertindak di luar ketentuan teknis, ataupun menurut
instruksi. Friedrich, sebab itu, mengkritik Weber karena mengabaikan tanggung
jawab tersebut. Ia menganggap penekanan Weber terhadap otoritas membuat
organisasi sosial jadi menyerupai organisasi militer. Ia menghalangi setiap
jenis konsultasi, dan hanya mengandalkan pola kooperatisme.
Peter Blau.
Bagi Blau, dalam bukunya The Dynamic of Bureaucracy, pandangan yang fleksibel
tetap harus berlangsung di organisasi rasional sekalipun (birokrasi). Di dalam
lingkungan yang berubah, pencapaian atas tujuan organisasi bergantung pada
perubahan secara terus-menerus di dalam struktur birokrasi. Karena itu,
efisiensi tidak dapat dijamin dengan membelenggu pejabat melalui seperangkat
undang-undang yang kaku. Hanya dengan membolehkan pejabat mengidentifikasi
tujuan-tujuan organisasi sebagai suatu keseluruhan, dan menyesuaikan tingkah
lakunya sesuai dengan persepsinya tentangng keadaan yang berubah, maka akan
dihasilkan suatu administrasi yang efisien.
R. V. Presthus,
W. Delaney, Joseph Lapalombara. Presthus mengamati kecenderungan birokrasi di
negara-negara non Barat. Ia menganggap konsep birokrasi Weber belum tentu cocok
bagi lingkungan non Barat. Ia menemukan bahwa pada industri batubara di Turki,
dorongan-dorongan ekonomis dan material untuk melakukan usaha tidaklah
seefektif dengan mereka yang mengusahakan hal yang sama di Barat. Kesimpulan
kontra Weber juga dikemukakan W. Delaney. Bagi Delaney, administrasi bercorak
patrimonial justru mungkin saja cocok bagi masyarakat dengan pembagian kerja
yang sederhana dan tradisional. Juga, Joseph Lapalombara menemukan fakta bahwa
birokrasi ala Cina dan Rusia lebih efektif ketimbang birokrasi Weber.
Konsep
Birokrasi Martin Albrow
Martin
Albrow adalah sosiolog dari Inggris. Ia banyak menulis seputar pandangan para
ahli seputar konsep birokrasi Weber. Akhirnya, ia sendiri mengajukan beberapa
konsepsinya seputar birokrasi. Albrow membagi 7 cara pandang mengenai
birokrasi. Ketujuh cara pandang ini dipergunakan sebagai pisau analisa guna
menganalisis fenomena birokrasi yang banyak dipraktekkan di era modern. Ketujuh
konsepsi birokrasi Albrow adalah :
1. Birokrasi
sebagai organisasi rasional
Birokrasi
sebagai organisasi rasional sebagian besar mengikut pada pemahaman Weber. Namun,
rasional di sini patut dipahami bukan sebagai segalanya terukur secara pasti
dan jelas. Kajian sosial tidap pernah menghasilkan sesuatu yang pasti menurut
hipotesis yang diangkat. Birokrasi dapat dikatakan sebagai organisasi yang
memaksimumkan efisiensi dalam administrasi. Secara teknis, birokrasi juga
mengacu pada mode pengorganisasian dengan tujuan utamanya menjaga stabilitas
dan efisiensi dalam organisasi-organisasi yang besar dan kompleks. Birokrasi
juga mengacu pada susunan kegiatan yang rasional yang diarahkan untuk
pencapaian tujuan-tujuan organisasi.
Perbedaan
dengan Weber adalah, jika Weber memaklumkan birokrasi sebagai “organisasi
rasional”, Albrow memaksudkan birokrasi sebagai “organisasi yang di dalamnya
manusia menerapkan kriteria rasionalitas terhadap tindakan mereka.”
2. Birokrasi
sebagai Inefesiensi Organisasi
Birokrasi
merupakan antitesis (perlawanan) dari dari vitalitas administratif dan
kretivitas manajerianl. Birokrasi juga dinyatakan sebagai susunan manifestasi
kelembagaan yang cenderung ke arah infleksibilitas dan depersonalisasi. Selain
itu, birokrasi juga mengacu pada ketidaksempurnaan dalam struktur dan fungsi
dalam organisasi-organisasi besar.
Birokrasi
terlalu percaya kepada preseden (aturan yang dibuat sebelumnya), kurang
inisiatif, penundaan (lamban dalam berbagai urusan), berkembangbiaknya formulir
(terlalu banyak formalitas), duplikasi usaha, dan departementalisme. Birokrasi
juga merupakan organisasi yang tidak dapat memperbaiki perilakunya dengan cara
belajar dari kesalahannya. Aturan-aturan di dalam birokrasi cenderung dipakai
para anggotanya untuk kepentingan diri sendiri.
3. Birokrasi
sebagai kekuasaan yang dijalankan oleh pejabat.
Birokrasi
merupakan pelaksanaan kekuasaan oleh para administrator yang profesional. Atau,
birokrasi merupakan pemerintahan oleh para pejabat. Dalam pengertian ini,
pejabat memiliki kekuasaan untuk mengatur dan melakukan sesuatu. Juga,
seringkali dikatakan birokrasi adalah kekuasaan para elit pejabat.
4. Birokrasi
sebagai administrasi negara (publik)
Birokrasi
merupakan komponen sistem politik, baik administrasi pemerintahan sipil ataupun
publik. Ia mencakup semua pegawai pemerintah. Birokrasi merupakan sistem
administrasi, yaitu struktur yang mengalokasikan barang dan jasa dalam suatu pemerintahan.
Lewat birokrasi, kebijakan-kebijakan negara diimplementasikan.
5. Birokrasi
sebagai administrasi yang dijalankan pejabat.
Birokrasi
dianggap sebagai sebuah struktur (badan). Di struktur itu, staf-staf
administrasi yang menjalankan otoritas keseharian menjadi bagian penting.
Staf-staf itu terdiri dari orang-orang yang diangkat. Mereka inilah yang
disebut birokrasai-birokrasi. Fungsi dari orang-orang itu disebut sebagai
administrasi.
6. Birokrasi
sebagai suatu organisasi
Birokrasi
merupakan suatu bentuk organisasi berskala besar, formal, dan modern. Suatu
organisasi dapat disebut birokrasi atau bukan mengikut pada ciri-ciri yang
sudah disebut.
7. Birokrasi
sebagai masyarakat modern
Birokrasi
sebagai masyarakat modern, mengacu pada suatu kondisi di mana masyarakat tunduk
kepada aturan-aturan yang diselenggarakan oleh birokrasi. Untuk itu, tidak
dibedakan antara birokrasi perusahaan swasta besar ataupun birokrasi negara.
Selama masyarakat tunduk kepada aturan-aturan yang ada di dua tipe birokrasi
tersebut, maka dikatakan bahwa masyarakat tersebut dikatakan modern.
Kesimpulan
- Pertama. Weber tidak pernah secara spesifik membangun sebuah teori birokrasi. Weber hanya mengamati organisasi negara yang dijalankan sebuah dinasti di masa hidupnya. Birokrasi tersebut bercorak patrimonial sehingga tidak efektif di dalam menjalankan kebijakan negara. Sebab itu, Weber membangun pengertian birokrasi sebagai sebuah organisasi yang legal rasional.
- Kedua. Weber telah menyebutkan 8 karakteristik yang menjadi ideal typhus dari suatu organisasi yang legal rasional. Karakteristik-karakteristik ini kemudian diterjemahkan sebagai penciriannya atas birokrasi sebagai sebuah organisasi yang lega-rasional.
- Ketiga. Weber juga telah membangun 10 ciri staf yang bekerja di dalam birokrasi sebagai sebuah organisasi yang bersifat legal-rasional. Ke-10 ciri tersebut kini melekat pada sifat pejabat yang kita sebut sebagai birokrat.
- Keempat. Weber juga telah memahami dampak negatif dari akumulasi kekuasaan orang di dalam birokrasi. Sebab itu, Weber menyodorkan 5 mekanisme yang mudah-mudahan dapat mencegah efek negatif kekuasaan orang-orang yang ada di dalam sebuah birokrasi.
- Kelima. Konsepsi Weber tentang birokrasi menghadapi kritik tajam dari sejumlah ahli. Para ahli tersebut berkisar pada sosiolog, teoretisi manajemen, hingga praktisi administrasi negara. Secara garis besar, keberatan pada tipikal birokrasi Weber berkisar pada masalah rasionalitas kerja orang-orang yang ada di dalam birokrasi. Peraturan mungkin saja rasional, tetapi oknum yang menjalankan aturan tersebut sangat manusiawi dan sukar untuk dinyatakan selalu rasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar