Model-model Implementasi Kebijakan Publik
Implementasi Sistem Rasional (Top-Down)
Menurut Parsons (2006), model implementasi
inilah yang paling pertama muncul. Pendekatan top down memiliki pandangan
tentang hubungan kebijakan implementasi seperti yang tercakup dalam Emile karya
Rousseau : “Segala sesuatu adalah baik jika diserahkan ke tangan Sang Pencipta.
Segala sesuatu adalah buruk di tangan manusia”.
Masih menurut Parsons (2006), model
rasional ini berisi gagasan bahwa implementasi adalah menjadikan orang
melakukan apa-apa yang diperintahkan dan mengontrol urutan tahapan dalam sebuah
sistem.
Mazmanian dan Sabatier (1983) dalam Ratmono
(2008), berpendapat bahwa implementasi top down adalah proses pelaksanaan
keputusan kebijakan mendasar. Beberapa ahli yang mengembangkan model
implementasi kebijakan dengan perspektif top down adalah sebagai berikut :
1. Van Meter dan Van Horn
Menurut Meter dan Horn (1975) dalam Nugroho
(2008), implementasi kebijakan berjalan secara linear dari kebijakan publik,
implementor dan kinerja kebijakan publik. Beberapa variable yang mempengaruhi
kebijakan public adalah sebagai berikut :
1. Aktifitas implementasi dan komunikasi
antar organisasi
2. Karakteristik agen pelaksana/implementor
3. Kondisi ekonomi, social dan politik
4. Kecendrungan (dispotition)
pelaksana/implementor
2. George Edward III
Menurut Edward III (1980) dalam Yousa
(2007), salah satu pendekatan studi implementasi adalah harus dimulai dengan
pernyataan abstrak, seperti yang dikemukakan sebagai berikut, yaitu :
1. Apakah yang menjadi prasyarat bagi
implementasi kebijakan ?
2. Apakah yang menjadi faktor penghambat
utama bagi keberhasilan implementasi kebijakan?
Sehingga untuk menjawab pertanyaan tersebut
di atas, Edward III, mengusulkan 4 (empat) variable yang sangat mempengaruhi
keberhasilan implementasi kebijakan, yaitu :
1. Communication (komunikasi) ; komunikasi
merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik dari atas ke bawah
maupun dari bawah ke atas. Untuk menghindari terjadinya distorsi informasi yang
disampaikan atasan ke bawahan, perlu adanya ketetapan waktu dalam penyampaian
informasi, harus jelas informasi yang disampaikan, serta memerlukan ketelitian
dan konsistensi dalam menyampaikan informasi
2. Resourcess (sumber-sumber) ;
sumber-sumber dalam implementasi kebijakan memegang peranan penting, karena
implementasi kebijakan tidak akan efektif bilamana sumber-sumber pendukungnya
tidak tersedia. Yang termasuk sumber-sumber dimaksud adalah :
a. staf yang relatif cukup jumlahnya dan
mempunyai keahlian dan keterampilan untuk melaksanakan kebijakan
b. informasi yang memadai atau relevan
untuk keperluan implementasi
c. dukungan dari lingkungan untuk
mensukseskan implementasi kebijakan
d. wewenang yang dimiliki implementor untuk
melaksanakan kebijakan.
3. Dispotition or Attitude (sikap) ;
berkaitan dengan bagaimana sikap implementor dalam mendukung suatu implementasi
kebijakan. Seringkali para implementor bersedia untuk mengambil insiatif dalam
rangka mencapai kebijakan, tergantung dengan sejauh mana wewenang yang
dimilikinya
4. Bureaucratic structure (struktur
birokrasi) ; suatu kebijakan seringkali melibatkan beberapa lembaga atau
organisasi dalam proses implementasinya, sehingga diperlukan koordinasi yang
efektif antar lembaga-lembaga terkait dalam mendukung keberhasilan
implementasi.
3. Mazmanian dan Sabatier
Mazmanian dan Sabatier (1983),
mendefinisikan implementasi sebagai upaya melaksanakan keputusan kebijakan,
sebagaimana pendapat mereka :
“Implementation is the carrying out of
basic policy decision, usually incorporated in a statute but wich can also take
the form of important executives orders or court decision. Ideally, that
decision identifies the problem(s) to be pursued, and, in a vaiety of ways,
‘structures’ the implementation process”.
Menurut model ini, implementasi kebijakan
dapat diklasifikan ke dalam tiga variable, yaitu (Nugroho, 2008) :
a. Variabel independen : yaitu
mudah-tidaknya masalah dikendalikan yang berkenaan dengan indicator masalah
teori dan teknis pelaksanaan, keragaman objek dan perubahan seperti apa yang
dikehendaki.
b. Variabel intervening : yaitu variable
kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi dengan indicator
kejelasan dan konsistensi tujuan
c. Varaibel dependen : yaitu
variable-variabel yang mempengaruhi proses implementasi yang berkenaan dengan
indicator kondisi social ekonomi dan teknologi, dukungan public, sikap dan
risorsis konstituen, dukungan pejabat yang lebih tinggi dan komitmen dan
kualitas kepemimpinan dari pejabat pelaksana
5. Model Grindle
Menurut Grindle (1980) dalam Wibawa (1994),
implementasi kebijakan ditentukan oleh isi kebijakan dan konteks
implementasinya. Ide dasarnya adalah bahwa setelah kebijakan ditransformasikan,
barulah implementasi kebijakan dilakukan. Keberhasilannya ditentukan oleh
derajat implementability dari kebijakan tersebut.
Isi kebijakan, mencakup hal-hal sebagai
berikut :
1. Kepentingan yang terpengaruh oleh
kebijakan
2. Jenis manfaat yang akan dihasilkan
3. Derajat perubahan yang diinginkan
4. Kedudukan pembuat kebijakan
5. Pelaksana program
6. Sumber daya yang dikerahkan
Sementara itu, konteks implementasinya
adalah :
1. Kekuasaan, kepentingan dan strategi
aktor yang terlibat
2. Karakteristik lembaga dan penguasa
3. Kepatuhan dan daya tanggap
Model Grindle ini lebih menitik beratkan
pada konteks kebijakan, khususnya yang menyangkut dengan implementor, sasaran
dan arena konflik yang mungkin terjadi di antara para aktor implementasi serta
kondisi-kondisi sumber daya implementasi yang diperlukan.
Implementasi Kebijakan Bottom Up
Model implementasi dengan pendekatan bottom
up muncul sebagai kritik terhadap model pendekatan rasional (top down). Parsons
(2006), mengemukakan bahwa yang benar-benar penting dalam implementasi adalah
hubungan antara pembuat kebijakan dengan pelaksana kebijakan. Model bottom up
adalah model yang memandang proses sebagai sebuah negosiasi dan pembentukan
consensus. Masih menurut Parsons (2006), model pendekatan bottom up menekankan
pada fakta bahwa implementasi di lapangan memberikan keleluasaan dalam
penerapan kebijakan.
Ahli kebijakan yang lebih memfokuskan model
implementasi kebijakan dalam persfektif bottom up adalah Adam Smith. Menurut
Smith (1973) dalam Islamy (2001), implementasi kebijakan dipandang sebagai
suatu proses atau alur. Model Smith ini memamndang proses implementasi
kebijakan dari proses kebijakan dari persfekti perubahan social dan politik,
dimana kebijakan yang dibuat oleh pemerintah bertujuan untuk mengadakan
perbaikan atau perubahan dalam masyarakat sebagai kelompok sasaran.
Menurut Smith dalam Islamy (2001),
implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variable, yaitu :
1. Idealized policy : yaitu pola interaksi
yang digagas oleh perumus kebijakan dengan tujuan untuk mendorong, mempengaruhi
dan merangsang target group untuk melaksanakannya
2. Target groups : yaitu bagian dari policy
stake holders yang diharapkan dapat mengadopsi pola-pola interaksi sebagaimana
yang diharapkan oleh perumus kebijakan. Karena kelompok ini menjadi sasaran
dari implementasi kebijakan, maka diharapkan dapat menyesuaikan pola-pola
perilakukan dengan kebijakan yang telah dirumuskan
3. Implementing organization : yaitu
badan-badan pelaksana yang bertanggung jawab dalam implementasi kebijakan.
4. Environmental factors : unsur-unsur di
dalam lingkungan yang mempengaruhi implementasi kebijakan seperti aspek budaya,
sosial, ekonomi dan politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar