Secara bahasa logika diartikan sebagai cara berpikir benar dan menurut terminologi (istilah) ilmu logika adalah pengetahuan yang istematis sekaligus mempelajari tentang aturan-aturan dan hukum-hukum berpikir yang dapat mengantarkan manusia pada kebenaran berpikir. Logika adalah kunci utama dan mendasar bagi manusia dalam melakukan aktifitas berpikir. Hal tersebut karena logika membantu manusia untuk mampu berpikir rasional, kritis ,abstrak, cermat dan objektif akan suatu hal.Oleh karena itu pula, barang siapa telah mempelajari logika, sesungguhnya ia telah menggengam master key untuk membuka semua pintu masuk ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
3. Proposi adalah ekspresi verbal dari putusan yang berisi pengakuan atau pengingkaran sesuatu (predikat) terhadap sesuatu yang lain (subyek) yang dapat dinilai benar atau salah dan tidak boleh kedua-duanya. Dalam proses pembentukan proposisi ini terjadi dua hal. Atau dapat dikatakan bahwa syarat terbentuknya proposisi mencakup dua hal yaitu, Ada terjadi pengertian yang menerangkan pengertian yang lain atau ada pengertian yang diingkari tentang pengertian lain.
Contoh Proposisi :
A.Proposisi Majemk Kategori & Majemuk Kondisional:
a. Majemuk Kategori : Julia Robert adalah seorang intepreter yang berbicara 5 bahasa asing
b. Majemuk Kondisional : Bila Vina ingin bekerja di kedutaan asing hendaknya ia mengambil kuliah jurusan sastra asing atau politik
B. Proposisi Kondisional
a. Disjunktif (alternatif) : Diklat itu merupakan syarat wajib mahasiswa untuk dapat mengikuti UAS atau hanya sekedar sertifikasi?
b. Hipotesis (sebab-akibat): Jika harga BBM naik,maka tarif angkot akan naik
C. Proposisi Afirmatif & Negatif
a. Afirmatif : Rieke Diah Pitaloka berasal dari partai PDI- P
b. Negatif : Rieke Diah Pitaloka bukan merupakan politikus independen
D. Proposisi Universal & Khusus
a. Universal : Semua mahasiswa Administrasi Negara pandai berargumentasi
b. Khusus : Sebagian mahasiswa Administrasi Negara pandai berargumentasi
4. Kesesatan atau yang disebut juga dengan fallacy adalah kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan bahasa (verbal) dan relevansi (materi). Kesesatan juga didefinisikan secara akademis sebagai keracunan pikiran yang disebabkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data konsep,baik sengaja (sofisme) maupun tidak sengaja (paralogis). Saya akan menjelaskan 3 macam kesesatan dalam aktivitas berpikir,yaitu :
a. Kesesatan Bahasa
Terjadi karena penggunaan kata/ istilah tertentu dalam kalimat (bahasa yang memiliki arti yang berbeda-beda). Kesalahan dalam penerjemahan bahasa dapat menimbulkan ambiguisme. Ada beberapa jenis kesesatan dalam kesesatan bahasa, yaitu kesesatan karena aksen/intonasi, kesesatan term ekuivokal, kesesatan metafora & kesesatan amfibolia. Keempat jenis kesesatan ini disebut quaterna terminorum.
Contoh :
“Menurut kabar burung Iwan Fals meninggal dunia”
Arti 1 : Menurut kabar burung, Iwan Fals meninggal dunia
Arti 2 : Menurut kabar, burung Iwan Fals meninggal dunia.
Hal ini merupakan contoh dari kesesatan bahasa secara amfiboli. Satu kalimat tersebut apabila ditulis dalam media cetak dan terjadi kekeliuran pada tanda bacanya, maka dapat dipastikan akan menimbulkan ambiguisme dan dapat mengakibatkan konflik antara iwan fals dan pendukungnya dengan surat kabar yang melakukan kesalahan penulisan tersebut :D
b. Kesesatan Relevansi
Timbul karena penarikan kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya. Jadi penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak menampakkan adanya hubungan logis antara premis dan kesimpulan, walaupun secara psikologis menampakkan adanya hubungan, namun kesan akan adanya hubungan secara psikologis ini sering membuat orang terkecoh.
Contoh :
Para ulama mengharuskan para wanita untuk memakai cadar setiap harinya untuk menunjukkan kesalehannya.
(Tidak semua ulama menganjurkan demikian, keharusan untuk memakai cadar merupakan ijtihad dari para ulama,yang didasari pandangan mereka terhadap budaya wanita di timur tengah yang memakai cadar. Hal ini merupakan contoh dari argumen berdasarkan otoritas )
c. Rasionalitas Kesesatan
Tidak semua kesesatan pasti dan selalu penalaran yang sesat. Dalam penalaran, ada implikasi logis dan implikasi defisional,kausal atau empirik dan internasional.Perbedaan kesesatan mengenai implikasi dalam penalaran yang diangggap sesat dapat terjadi karena kesesatan itu biasanya tidak tersusun sebagai silogisme formal.
Contoh :
Seseorang memilih partai dalam pemilu karena pasti adanya program dalam partai tersebut (implikasi defisional, tidak mungkin adanya kesesatan dalam penalaran mengenai partai yang dipilih tersebut)
6. Saya mengutip satu artikel yang bersumber dari harian “The Jakarta Post” tanggal 29 Juni 2013 yang berjudul “Polygamy and graft, a most convenient marriage”. http://www.thejakartapost.com/news/2013/06/29/polygamy-and-graft-a-most-convenient-marriage.html.
Artikel tersebut mengulas tentang poligami yang dilakukan oleh tersangka kelas kakap kasus korupsi yang sedang booming akhir -akhir ini. Seorang editor dan beberapa pengamat politik dalam artikel ini mengungkapkan bahwa seorang high-profile graft cases suspect kebanyakan menyalahgunakan kekuatan mereka di pemerintahan dan mempunyai istri lebih dari satu untuk dibagikan harta hasil korupsi yang telah mereka lakukan,dengan asumsi KPK akan kesulitan dalam melacak jumlah kekayaan para pejabat tersangka korupsi tersebut.
Serial polygamists :
• Luthfi Hasan Ishaaq: 3 wives, 15 children
• Insp. Gen. Djoko Susilo: 3 wives, 5 children
• Ahmad Fathanah: Divorced from second and third wives, now married to Surti Kurlianti and Septi Sanustika, 5 children
• Rusli Zainal: Four wives
Dari data “serial polygamists” tersebut dapat dikaitkan dengan penalaran induktif,dengan menarik premis sebagai berikut :
P1 : Lutfi Hasan Ishaaq adalah seorang pejabat yang korupsi, berpoligami (mempunyai 3 istri)
P2 : Djoko Susilo adalah seorang pejabat yang korupsi, berpoligami (mempunyai 3 istri)
K : Semua pejabat negara yang korupsi berpoligami (mempunyai istri lebih dari 1)
Namun, kesimpulan tersebut hanya mempunyai kebenaran probabilitas,karena tidak semua pejabat negara yang korupsi berpoligami.Kesimpulan tersebut ditarik berdasarkan premis yang diambil dari kasus korupsi yang baru baru ini terblow-up dan kebetulan para tersangkanya mempunyai persoalan pribadi yang sama yaitu “berpoligami”.
Letak kesalahannya : “Anas Urbaningrum adalah pejabat yang korupsi hanya mempunyai satu istri ,yaitu Athiyyah Laila.
A. Pengertian
Kesesatan
adalah kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan
bahasa (verbal) dan/atau relevansi (materi). Kesesatan (fallacia, fallacy)
merupakan bagian dari logika yang mempelajari beberapa jenis kesesatan
penalaran sebagai lawan dari argumentasi logis. Kesesatan karena ketidaktepatan
bahasa antara lain disebabkan oleh pemilihan terminologi yang salah sedangkan
ketidaktepatan relevansi bisa disebabkan oleh (1) pemilihan premis yang tidak
tepat (membuat premis dari proposisi yang salah), atau (2) proses penyimpulan
premis yang tidak tepat (premisnya tidak berhubungan dengan kesimpulan yang
akan dicari).
Perlu
diperhatikan bahwa pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logis menyebabkan
terjadinya kesesatan atau kesalahan dalam penalaran. Kesesatan adalah suatu
penalaran yang salah yang kelihahtan memiliki kebenaran. Kesesatan adalah suatu
argumen yang tidak logis, yang menyesatkan, yang memperdaya.
Suatu
kesesatan yang dilakukan dengan maksud memperdayai disebut sofism (sophism).
Jika kesesatan dipakai karena ketidaktahuan tentang peraturan-peraturan
penalaran, hal itu disebut paralogisme.
Logika
lahir salah satunya berusaha mencoba membantah pikiran-pikiran lain dengan cara
menunjukan kesesatan penalarannya. Kesesatan penalaran ini ada yang disengaja
ada pula yang tidak disengaja. Kesesatan yang tidak disengaja muncul sebagai
bukti bahwa kemampuan berpikir manusia terbatas, atau karena ketidaksadaran
pelaku itu. Istilah kesesatan merupakan terjemahan dari fallacia atau fallacy.
Dalam
percakapan sehari-hari, kita sering mendengar ujaran – yang kalau dihayati
secara logis – ternyata tidak benar atau menyesatkan. Kesesatan berlogika ini
bukan disebabkan oleh kesalahan data atau fakta, melainkan kesalahan dalam
mengambil konklusi. Konklusi yang diambil bukan atas dasar logika atau
penalaran yang sehat. Contoh pernyataan yang menyesatkan, “Bertani itu
menyehatkan, oleh karena itu, setiap petani pasti sehat”.
Berdasarkan
paparan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kesesatan merpakan suatu akibat
pengambilan konklusi yang bertentangan dengan pikiran yang logis. Soekadijo
menyebutkan bahwa kesesatan dalam penalaran dapat terjadi karena yang sesat itu
disebabkan oleh beberapa hal yang tampaknya masuk akal. Jika seeorang
mengemukakan sebuah penalaran yang sesat dan dia sendiri tidak melihatnya
sebagai sesuatu kesesatan, maka penalaran sasat seperti itu disebut paralogis.
Sebaliknya, jika penalaran yang sesat itu sengaja dilakukan untuk menyesatkan
orang lain disebut sofisme.
Ada dua macam kesesatan, yaitu
kesesatan formal dan kesesatan informal. Kesesatan formal adalah kesalah yang
terjadi akibat pelanggaran terhadap peraturan-peraturan definisi, pembagian,
konversi, obversi, silogisme kategoris dan silogisme hipotetis. Adapun
kesesatan informal atau kesesatan material adalah kesesatan yang terjadi akibat
kekacauan konotasi atau denotasi term-term yang dipakai karena asumsi-asumsi
yang salah tentang fakta, atau karena ketidaktahuan tentang masalah yang ada.
B. Kesesatan karena Bahasa
Bahasa
pada dasarnya merupakan seperangkat kaidah atau sistem. Sebuah bahasa pada
hakikatnya unik. Tidak ada dua bahasa yang memiliki sistem yang persis, betapa
pun dekatnya rumpun atau kerabat bahasa tersebut. Namun, kesamaan yang utama
adalah bahwa bahasa pada prinsipnya sebagai alat komunikasi yang terdiri atas
lapisan fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan terbesar wacana. Satuan
terkecil bahasa yang mampu mewadahi konsep secara lengkap sebenarnya kalimat.
Dengan kalimatlah kita dapat menuangkan ide, pikiran, perasaan, kehendak atau
hayal sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Namun satuan kita dapat dijadikan
lambang sebuah konsep.
Kata-kata
dalam bahasa dapat mempunyai makna yang berbeda-beda. Sebuah kata dapat saja
mempunyai makna sebanyak lima buah jika digunakan dalam lima kalimat. Oleh
karena itu, makna sebuah kata yang sebenarnya terdapat dalam sebuah kalimat.
Namun dalam kalimat sendiri, kadang-kadang kita dapat menginterpretasikan makna
lebih dari satu. Tentu saja, semua ini akan dapat menimbulkan kesesatan.
Dalam
buku Drs. Surajiyo, dkk. Dasar-Dasar Logika, kesesatan karena bahasa dapat
dibedakan atas: 1) kesesatan karena term ekuivokal, 2) kesesatan karena aksen
atau tekanan, 3) kesesatan karena arti kiasan, dan 4) kesesatan karena amfiboli
.
Sedangkan
dalam buku Drs.Munduri dan Rafael Raga Maran, kesesatan karena bahasa dapat
dibedakan atas: 1) kesesatan karena term ekuivokal, 2) kesesatan karena
tekanan, 3) kesesatan karena komposisi, 4) kesesatan divisi/pembagian, dan 5)
kesesatan karena amfiboli.
1)
Kesesatan karena term ekuivokal (Fallacy of Equivocation )
Term
ekuivokal yaitu term yang dialmbangkan oleh kata yang memiliki struktur
fonologis yang sama tetapi mempunyai makna yang berbeda. Jika dalam suatu
penalaran terjadi pergantian makna dari term yang sama, maka akan menimbulkan
kesesatan penalaran.
Contoh:
(1) Abadi adalah sifat Allah
(2) Adam adalah mahasiswa abadi
Jadi
Adam adalah mahasiswa yang memiliki sifat Allah.
2)
Kesesatan karena tekanan (Fallacy of Accent)
Maksudnya,
sebuah term apabila diucapkan dengan tekanan yang berbeda, maka maknanya pun
akan berbeda. Hal seperti ini dapat dilihat dalam bebebrapa bahasa Barat,
misalnya bahasa Inggris dan Belanda. Apabila tekanan keras pada suatu bagian
(segmen) sebah kata dipindahkan ke bagian lain, maka makna kata itu akan
berubah.
Contohnya:
Contohnya:
refuse
= sampah
refuse
= menolak (Inggris)
doorlopen
= berjalan terus
doorlopen
= menjalani (belanda)
Dalam
bahasa Indonesia tidak ada tekanan yang berfungsi untuk membedakan makna. Namun
ada pula bentuk-bentuk yang memiliki struktur fonologis yang sama tetapi
merupakan dua buah kata yang berbeda.
Contoh:
(1a) Dia itu beruang (ber-u-ang)
(1b)
Dia itu beruang (be-ru-ang)
(2a)
Amir sedang memetik jambu monyet
(2b)
Amir sedang memetik jambu/monyet (tanda / sebagai jeda)
3)
Kesesatan karena komposisi (Fallacy of Composition)
Kekeliruan
berfikir karena menetapkan sifat yang ada pada bagian untuk menyifati
keseluruhannya.
Contoh:
*Setiap kapal perang telah siap tempur, maka keseluruhan angkatan laut negara itu sudah siap tempur.
*Setiap kapal perang telah siap tempur, maka keseluruhan angkatan laut negara itu sudah siap tempur.
*Mur
ini sangat ringan, karena itu mesinnya tentu ringan juga.
4)
Kesesatan karena pembagian (Fallacy of Division)
Kekeliruan
berfikir karena menetapkan sifat yang ada pada keseluruhannya, maka demikian
juga setiap bagiannya.
Contoh:
*Kompleks ini dibangun di atas tanah yang luas, tentulah kamar-kamar tidurnya
juga luas.
*Di perguruan tinggi para mahasiswa belajar hukum,
ekonomi, filsafat, sastra, teknik, kedokteran, karena itu setiap mahasiwa
tentulah mempelajari semua ilmu-ilmu tersebut.
5)
Kesesatan karena Amfiboli (Fallacy of Amphiboly)
Amfiboli
akan terjadi jika sebuah struktur kalimat mempunyai makna ganda atau bercabang.
Perbedaan penfsiran itu karena aksen atau jeda, tetapi karena pembicara atau
penulis membuat kalimat yang memang sedemikian rupa sehingga maknanya
bercabang.
Contohnya:
Mahasiswa yang duduk di atas kursi yang paling belakang itu putra Pak Camat.
Mahasiswa yang duduk di atas kursi yang paling belakang itu putra Pak Camat.
Membaca
kalimat tersebut kita mungkin akan menafsirkan apa yang paling belakang itu?
Mahasiswanya atau mejanya. Soekadijo memberikan contoh kalimat bahasa Inggris
yang beliau kutip dar tulisan Shakespeare, The duke yet lives that Henry shall
depose. Apakah the duke yang akan menjatukan Raja Henry atau sebaliknya Raja
Henry yang akan menjatuhkan the duke?
Jika dalam sebuah penalaran kalimat
amfiboli di dalam premis digunakan untuk arti yang satu, sedangkan di dalam
konklusi artinya berbeda, maka terjadilah kesesatan karena amfiboli. Disini
dituntut kehati-hatian pembicara atau penulis untuk menggunakan kalimat-kalimat
sejenis itu.
C. Kesesatan Relevansi
Kesesatan
relevansi timbul kalau orang menurunkan suatu kesimpulan yang tidak relevan
dengan premisnya, artinya secara logis kesimpulan tidak terkandung atau tidak
merupakan implikasi dari premisnya. Kesesatan Relevansi adalah sesat pikir
yang terjadi karena argumentasi yang diberikan tidak tertuju kepada persoalan
yang sesungguhnya tetapi terarah kepada kondisi pribadi dan karakteristik
personal seseorang (lawan bicara) yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran
atau kekeliruan isi argumennya. Kesesatan ini timbul apabila orang menarik
kesimpulan yang tidak relevan dengan premis nya. Artinya secara logis
kesimpulan tersebut tidak terkandung dalam/ atau tidak merupakan implikasi dari
premisnya.
Jadi
penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak menampakkan adanya hubungan
logis antara premis dan kesimpulan, walaupun secara psikologis menampakkan
adanya hubungan - namun kesan akan adannya hubungan secara psikologis ini
sering kali membuat orang terkecoh.
Kesesatan
relevansi timbul jika orang menurunkan suatu konklusi yang tidak relevan dengan
premisnya. Maksudnya, secara logis konklusi tidak terkandung atau tidak
merupakan imflikasi dari premisnya. Soekadijo (1997), selanjutnya memaparkan
bentuk-bentuk kesesatan relevansi yang banyak terjadi seperti berikut ini.
1) Argumentum
ad hominem
Kesesatan
ini terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau menolak sesuatu
usulan, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang
berhubungan dengan kepentingan si pembuat usul.
2) Argumentum
ad Verecundiam atau Argumentum Auctoritatis
Kesesatan
ini juga disebabkan oleh penolakan terhadap sesuatu tidak berdasarkan nilai
penalarannya, akan tetapi karena disebabkan oleh orang yang mengemukakannya
adalah orang yang berwibawa, dapat dipercaya, seorang pakar. Secara logis tentu
dalam menerima atau menolak sesuatu tidak bergantung kepada orang yang dianggap
pakar. Kepakaran, kepandaian, atau kebenaran justru harus dibuktikan dengan
penalaran yang tepat. Pepatah latin berbunyi, “Tantum valet auctoritas, quantum
valet argumentation” ; yang maknanya, ‘Nilai wibawa itu hanya setinggi nilai
argumentasinya’.
Contoh:
*Apa yang dikatakan ulama A pada kampanye itu pasti benar.
*"Saya yakin apa yang dikatakan beliau
adalah baik dan benar karena beliau adalah seorang pemimpin yang brilian,
seorang tokoh yang sangat dihormati, dan seorang dokter yang jenius"
3) Argumentum
ad baculum
Baculum
artinya ‘tongkat’. Maksudnya, kesesatan ini timbul kalau penerimaan atau
penolakan suatu penalaran didasarkan atas adanya ancaman hukuman. Jika, kita
tidak menyetujui sesuatu maka dampaknya kita akan kena sanksi.kita menrima
sesuatu itu karena terpaksa, karena takut bukan karena logis.
Contoh:
Seorang anak yang belajar bukan karena ia ingin lebih pintar tapi karena kalau ia tidak terlihat sedang belajar, ibunya akan datang dan mencubitnya.
Seorang anak yang belajar bukan karena ia ingin lebih pintar tapi karena kalau ia tidak terlihat sedang belajar, ibunya akan datang dan mencubitnya.
4) Argumentum
ad misericordiam
Penalaran
ini disebabkan oleh adanya belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditujukan
untuk menimbulkan belas kasihan sehingga pernyataan dapat diterima. Argumen ini
biasanya berhubungan dengan usaha agar sesuatu perbuatan dimaafkan. Misalnya,
seorang pencuri yang tertangkap basah mengatakan bahwa ia mencuri karena lapar
dan tidak mempunyai biaya untuk menembus bayinya di rumah sakit, oleh karena
itu ia meminta hakim membebaskannya.
5) Argumentum
ad populum
Argumentum
populum ditujukan untuk massa. Pembuktian sesuatu secara logis tidak perlu.
Yang diutamakan ialah menggugah perasaaan massa sehingga emosinya terbakar dan
akhirnya akan menerima sesuatu konklusi tertentu. Yang seperti ini biasanya
terdapat pada pidato politik, demonstrasi, kampanye, propaganda dan sebagainya.
Contoh:
•
Satu juta orang Indonesia menggunakan jasa layanan seluler X, maka sudah pasti
itu layanan yang bagus.
•
Semua orang yang saya kenal bersikap pro Presiden. Maka saya juga tidak akan
mengkritik Presiden.
•
Mana mungkin agama yang saya anut salah, lihat saja jumlah penganutnya paling
banyak di muka bumi.
6) Kesesatan
non cause pro cause
Kesesatan
ini terjadi jika kita menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal sebenarnya
bukan sebab, atau bukan sebab yang lengkap. Contohnya yaitu suatu peristiwa
yakni Amir jatuh dari sepeda dan meninggal dunia. Orang menyebutnya bahwa Amir
meninggal dunia karena jatuh dari sepeda. Akan tetapi menurut visum et repertum
dokter, Amir meninggal dunia karena serangan penyakit jantung.
7) Kesesatan
aksidensi
Kesesatan
ini terjadi jika kita menerapkan prinsip-prinsip umum atau pernyataan umu
kepada peristiwa-peristiwa tertentu yang karena keadaanya yang bersifat
aksedential menyebabkan penerapan itu tidak cocok. Contohnya, seseorang member
susu dan buah-buahan kepada bayinya meskipun bayi itu sakit, dengan pengrtian
bahwa susu dan buah-buahan itu baik bagi bayi, maka si ibu itu melakukan
penalaran yang sesat karena aksidensinya. Contoh lain, yaitu makan itu
pekerjaan yang baik. Akan tetapi jika kita makan ketika berpuasa, maka
penalaran kita sesat karena aksidensi.
8) Kesesatan
karena komposisi dan devisi
Ada
predikat-predikat yang hanaya mengenai individu-individu suatu kelompok
kolektif. Kalau kita menyimpulkan bahwa predikat itu juga berlaku untuk
kelompok kolektif seluruhnya, maka penlaran kita sesat karena komposisi.
Misalnya, ada beberapa anggota-anggota polisi yang menggunakan senjatanya untuk
menodong, kita simpulkan bahwa korps kepolisian itu terdiri atas penjahat.
Sebaliknya, jika ada predikat yang berlaku untuk kelompok kolektif dan
berdasarkan hal itu disimpulkan bahwa setiap anggota dari kelompok kolektif itu
tentu juga menyandang predikat itu, maka penalaran itu sesat karena devisi.
9) Kesesatan
karena pertanyaan yang kompleks
Sebuah
pertanyaan atau perintah, sering kali bersifat kompleks yang dapat dijawab oleh
lebih dari satu pernyataan, meskipun kalimatnya sendiri tunggal. Contohnya,
jika ada pertanyaan, “Coba sebutkan macam-macam kalimat!”, maka jawabannya
anatara lain: Kalimat tunggal dan kompleks ; kalimat berita, perintah, dan
pertanyaan ; kalimat aktif dan pasif ; kalimat susun normal dan inversi.
10) Argumentum
ad ignorantum
Argumentum
ad ignorantum adalah penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi atas dasar
bahwa negasinya tidak terbukti salah, atau yang menyimpulkan bahwa sesuatu
konklusi itu salah karena negasinya tidak terbukti benar. Contohnya, jika kita
menyimpulkan bahwa mahluk “berbadan halus” itu tidak ada karena tidak dapat
kita lihat, hal ini sama saja dengan pernyataan bahwa di Kepulauan Paskah tidak
ada piramida karena kita tidak mengetahui adanya piramida di sana.
Banyak
dari kesesatan-kesesatan relevansi diidentifikasikan oleh para pakar logika
abad pertengahan dan renaisans. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau
nama-nama Latin dipakai untuk kesesatan-kesesatan yang dimaksud.
D. Rasionalitas Kesesatan
Istilah
“fallacy” uang kita Indonesiakan dengan “kesesatan” adalah istilah yang sudah
mapan dalam logika, akan tetapi sebenarnya dapat menyesatkan. Dalam hal ini
harus diperhatikan bahwa ada implikasi logis, implikasi definisional, kausal
atau empirik, dan intensional. Penalaran yang berdasarkan implikasi logis tidak
sahih, mungkin dapat di susun demikian rupa sehingga mengandung implikasi
kausal, misalnya. Dan berdasarkan implikasi kausal ini mungkin penalaran itu
sahih.
Jenis-jenis tersebut diatas, masih terbagi lagi menjadi
beberapa sub-jenis, diantaranya :
·
Kesesatan Relevansi
-
Menampilkan emosi (
Argumentum Ad Populum )
Ditujukan
untuk massa guna mempengaruhi pendapat umum. Mis, pidato politik, demonstrasi,
dll.
Ex
:
a. Sejak awal Golkar hanya satu, yaitu membantu dan menolong
masyarakat untuk kepentingan bersama. Siapa saja yang menentang Golkar akan
dianggap sebagai musuh masyarakat
b. Jika anda orang NU, coblos hanya partainya orang NU (PKB,
PPP, dls)
-
Menampilkan rasa
kasihan ( Argumentum Ad Misericordiam )
sesat
pikir yang sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan
bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan/ keinginan.
Ex
:
a. Mahasiswa datang terlambat kesekian kalinya dan akhirnya
diancam tidak lulus kuliah, mahasiswa tersebut mengatakan bahwa kalau tidak
lulus dia akan bunuh diri, dia memohon untuk diberi kesempatan lagi sambil
menerangkan kalau dia sering terlambat masuk kuliah karena bangun selalu
terlambat, alarm tidak berfungsi.
b. Pencuri motor yang beralasan bahwa ia miskin dan tidak bisa
membeli sandang dan pangan
-
Menampilkan kekuasaan
/ power ( Argumentum Ad Baculum )
Penunjukan
kekuasaan untuk penerimaa kesimpulan, dengan tujuan menekan dan menakut-nakuti.
Ex
:
a. Pasal pertama, OSIS tidak pernah salah. Pasal kedua, jika
OSIS salah kembali ke pasal pertama.
b. Bila anda tidak mengakui pendapat saya benar, maka anda
adalah seorang penghianat.
-
Menunjuk (ditujukan)
kepada oranya ( Argumentum Ad Hominem )
Menyerang
pribadi dari orang yang menyampaikan pendapat, bukan pada pendapat itu sendiri.
Argumentum
ad homonem ada 2 : abusive (serangan pada pribadi atau personal abuse) dan
circumstantial (serangan yg menitiberatkan pada keyakinan seseorang dan
lingkungan hidupnya).
Ex
:
a. Rakyat kecil sepertimu tahu apa soal pemerintah dan politik,
sudah percayakan saja pada mereka yang berpendidikan tinggi.
b. Kita datang terlambat ke kantor kemudian menyalahkan traffic
light yang berwana merah yang menghalangi kita datang tepat waktu.
-
Kesimpulan tidak
sesuai ( Ignorato Elenchi )
terjadi
saat seseorang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya. Umumnya
dilatarbelakangi prasangka, emosi, dan perasaan subyektif. Juga dikenal sebagai
kesesatan "red herring".
Ex
:
a. Orang yang barusan keluar dari kampus
pastilah seorang mahasiswa. Padahal tidak semuanya yang keluar dari kampus
adalah mahasiswa.
b. Kejahatan pencurian dan perampokan telah
meningkat menurut data terakhir. Kesimpulannya jelas, kita harus segera
menerapkan kembali hukuman mati.
·
Kesesatan karena
induksi yang lemah
-
Argumen dari
ketidaktahuan ( Argumentum Ad Ignorantiam )
Kesalahan terjadi ketika berargumen bahwa proposisi adalah
benar hanya atas dasar bahwa belum terbukti salah, atau bahwa itu adalah salah
karena belum terbukti benar.
Ex
:
a. Karena mahasiswa tidak ada yang bertanya, maka saya anggap
mereka mengerti semua
b. Udin mengatakan bahwa si Aziz adalah dukun santet, sebab
sejak tinggal disini banyak warga meninggal secara misterius. Selain itu, Aziz
tidak memiliki pekerjaan tapi orang tidak tahu dia mendapat penghasilan dari
mana. (karena tidak ada bukti yang kuat bahwa Aziz bukan dukun santet, maka
kesimpulannya dia dukun santet).
-
Argumen
berdasarkan otoritas ( Argumentum Ad Verecundiam )
Kesesatan ini disebabkan oleh keabsahan penolakan terhadap
sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, akan tetapi karena disebabkan
oleh orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa, dapat dipercaya,
seorang pakar.
Ex :
a. Seorang pakar telematika
mengklarifikasi berita heboh tentang benda mirip ufo, bahwa itu benda palsu
karena hasil editan photoshop.
b. Seorang ulama menfatwakan haram bagi
seorang perempuan melihat, memegang, bahkan memakan buah mentimun dan pisang
disebabkan bentuk keduanya mirip alat vital laki-laki. Mungkin pengikutnya akan
langsung menuruti saja karena dia ulama meskipun ulama tersebut mengada-adakan
fatwa sendiri.
-
Kesesatan non causa
pro causa ( False Cause )
Kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan
sebab-akibat dari apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya
suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Disebut
juga post-hoc ergo propter hoc (sesudahnya maka karenanya).
Ex :
a. Amien Rais mengkritik
kinerja kabinet SBY. Keesokan harinya, SBY me-resuffle kabinetnya. Akhirnya
orang berfikir bahwa kabinet SBY di-resuffle akibat kritikannya Amien Rais.
Padahal belum tentu.
b. Susi biasanya rajin
berdoa menjelang UAS. Suatu saat Susi tidak berdoa dan hasil ujiannya jelek.
Susi lalu berkata, “Coba kalau aku rajin berdoa, nilai ujianku pasti baik.”
-
Generalisasi yang
tergesa-gesa ( Hasty Generalization )
Kesalahan pikir karena generalisasi yang terlalu cepat.
Ex :
a. Jika akhir bulan polisi itu seperti
tukang palak. Mencari mangsa untuk dicari kesalahannya dan ditilang. Jadi semua
polisi itu dasarnya tukang palak. (tapi sebenarnya tidak semua, ada juga yang
baik)
b. Si Ahmad pernah kepergok mencuri oleh
warga. Karena perbuatannya warga menilai dan menyebut kelurga Ahmad sebagai
keluarga pencuri. (pepatah nila setitik rusak susu sebelangga)
·
Kesesatan praduga
-
Kesesatan aksidensi
Memaksakan aturan-aturan/ cara-cara yang bersifat umum pada
suatu keadaan atau situasi yang bersifat aksidental, yaitu situasi yang
bersifat kebetulan, tidak seharusnya ada atau tidak mutlak.
Ex
:
a. Menurut penelitian ilmiha, gerakan-gerakan sholat sangat
bermanfaat bagi kesehatan, jadi seharusnya orang Kristen juga harus sholat.
b. Lemak adalah salah satu sumber energy yang sangat berguna.
Karena berguna, lemak sangat disarankan dikonsumsi oleh penderita obesitas.
-
Kesesatan karena
pertanyaan yang kompleks
Bersumber pada pertanyaan yang sering kali disusun
sedemikian rupa sehingga sepintas tampak sebagai pertanyaan yang sederhana,
namun sebetulnya bersifat kompleks.
Ex :
a. Katakana sejujurnya, kau pilih dia atau
aku ?
b. Apakah kau yang mengambil bukuku? Jawab
ya atau tidak.
-
Begging the question
( Petitio Principii )
Terjadi dalam kesimpulan atau pernyataan pembenaran di mana
premis digunakan sebagai kesimpulan dan sebaliknya, kesimpulan dijadikan
premis.
Ex :
a. “kenapa hari ini terasa cepat sekali
ya?”, “ya, karena jam berputarnya cepat.”
b. Seorang guru bertanya pada muridnya
kenapa lampu diruangah mati. Muridnya enjawab karena lampunya tidak menyala.
·
Kesesatan ambiguitas
-
Kesesatan ekuivokasi
Kesesatan yang disebabkan karena satu
kata mempunyai lebih dari satu arti. Ada dua jenis kesesatan ekuivokasi, verbal
(terjadi pada pembicaraan dimana bunyi yang sama disalah artikan menjadi dua
maksud yang berbeda) dan non verbal.
Ex
:
a. Malam (lawan siang) dengan malam (zat pewarna batik)
b. Buku (kitab) dan buku (ruas bambu)
c. Perempuan berjilbab itu pasti muslim.
Padahal di timur tengah non muslim perempuannnya juga berjilbab
d. Kalau hari gelap pasti malam, padahal gelap bukan cuma
indikasi kalau sedang malam bisa saja karena mendung atau mati lampu.
-
Kesesatan amfiboli (
Gramatikal )
Ini
dikarenakan letak sebuah kata atau term tertentu dalam konteks kalimatnya.
Akibatnya timbul lebih dari satu penafsiran mengenai maknanya, padalahal hanya
satu saja makna yang benar sementara makna yang lain pasti salah.
Ex
:
a. Bel berbunyi masuk kelas
1
bel berbunyi lalu bel tersebut masuk kelas
2
bel berbunyi tanda harus masuk kelas
b. Kucing makan tikus beranak
1
kucing makan tikus lalu beranak
2
kucing makan tikus yang sedang beranak
3
kucing sedang makan, tikus sedang beranak
-
Kesesatan aksentuasi
Pengucapan
terhadap kata-kata tertentu perlu diwaspadai karena ada suku kata yang harus
diberi tekanan. Perubahan dalam tekanan terhadap suku kata dapat menyebabkan
perubahan arti.
Ex
:
a. Serang (nama tempat) dan serang (kata kerja)
b. Sanga (bahasa banjar : goreng) dan sanga (bahasa jawa :
Sembilan)
-
Kesesatan karena
kompisisi
Kesesatan karena komposisi terjadi bila seseorang berpijak
pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa
individu dari suatu kelompok tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh
kelompok secara kolektif.
Ex
:
a. Dini adalah perempuan cantik karena keturunan Cina.
Perempuan keturunan cina sudah pasti cantik seperti Dini
b. Allah menurunkan Alquran dalam babahasa arab, bahasa arab
adalah bahasa semua orang yang beragama Islam.
-
Kesesatan karena
divisi
Kesesatan karena divisi terjadi bila seseorang beranggapan
bahwa apa yang benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif pasti juga
benar (berlaku) bagi individu-individu dalam kelompok tersebut.
Ex :
a. Dolly merupakan kampong PSK, Ika
tinggal di Dolly, berarti dia salahs atu PSK.
b. Arab Saudi adalah Negara muslim, Ria
adalah salah satu warganya, berarti Ria seorang muslimah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar